Sebagian orang menyadari bekas luka mereka tidak kunjung memudar, justru semakin menebal, menonjol, dan meluas melebihi ukuran luka aslinya. Kondisi ini disebut keloid, yaitu penebalan kulit akibat produksi kolagen yang berlebihan saat proses penyembuhan luka. Keloid memang tidak berbahaya, tapi cukup mengganggu penampilan dan kenyamanan, apalagi keloid jarang bisa hilang dengan sendirinya. Karena itu, penting untuk memahami cara mengobati luka keloid sejak gejala awal muncul, atau bahkan mencegahnya sebelum terbentuk.
Kenali Ciri-Ciri Keloid
Keloid biasanya tumbuh di atas bekas luka dengan warna lebih gelap dibanding kulit sekitarnya, mulai dari pink, kemerahan, hingga cokelat. Permukaannya bisa terasa licin dan mengilap atau justru berkerut, dan sebagian orang merasakan gatal atau sensasi seperti terbakar saat keloid sedang aktif tumbuh.
Mencegah Keloid Sejak Luka Masih Baru
Karena keloid sulit diobati, pencegahan menjadi langkah paling penting. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan sejak luka masih baru:
- Jaga luka tetap bersih dan lembap. Cuci area luka dengan sabun dan air, sekalipun ukurannya kecil. Hindari penggunaan hidrogen peroksida, alkohol gosok, atau yodium karena bisa memperlambat penyembuhan.
- Gunakan pembersih luka yang lembut sebelum menutup area yang terluka, agar kotoran dan bakteri tidak memperparah proses peradangan.
- Tutup luka dengan plester untuk melindunginya dari debu dan gesekan sekaligus menjaga kelembapan yang dibutuhkan kulit untuk beregenerasi secara optimal.
- Hindari aktivitas yang menegangkan jaringan parut, seperti gerakan berlebihan di area luka yang belum sembuh sempurna.
- Jangan membuat luka baru yang disengaja di area bekas luka lama, misalnya tato atau tindik, karena berisiko memicu keloid baru.
Cara Mengatasi Keloid yang Sudah Terbentuk
Jika keloid sudah terlanjur muncul, ada beberapa pendekatan yang bisa dipertimbangkan, meski hasilnya bervariasi pada tiap orang:
- Lembaran atau gel silikon dapat membantu meratakan dan melunakkan tekstur keloid secara bertahap.
- Krim kortikosteroid yang diresepkan dokter bisa mengurangi kemerahan, gatal, dan peradangan pada keloid, meski tidak sepenuhnya menghilangkannya.
- Konsultasi dengan dokter kulit tetap disarankan untuk kasus keloid yang mengganggu, karena penanganan seperti suntik steroid atau tindakan medis lain perlu disesuaikan dengan kondisi kulit masing-masing.
Untuk membantu perawatan bekas luka sehari-hari, Hansaplast Plester Bekas Luka bisa digunakan sebagai pelengkap rutinitas perawatan kulit yang berisiko meninggalkan bekas menonjol, terutama pada luka yang baru sembuh dan masih dalam tahap pemulihan.
Lengkapi Kotak P3K untuk Perawatan Luka yang Lebih Optimal
Selain fokus pada pencegahan keloid, ada baiknya rumah selalu dilengkapi perlengkapan dasar perawatan luka. Sediakan plester luka biasa untuk luka ringan sehari-hari, plester anti air atau perban anti air untuk luka yang sering terkena air, serta plester transparan bila ingin luka tetap terpantau tanpa harus sering dibuka-tutup. Untuk anak-anak, plester luka anak dengan desain menarik bisa membuat mereka lebih kooperatif saat lukanya dirawat. Jangan lupa sediakan juga kasa steril dan kasa luka untuk luka yang lebih besar, salep luka bakar untuk cedera akibat panas, serta koyo untuk meredakan pegal otot di sela aktivitas.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera konsultasikan ke dokter apabila keloid terus membesar, terasa sangat nyeri atau gatal hebat, muncul di area wajah atau sendi yang mengganggu gerak, atau jika Anda memiliki riwayat keloid dan berencana menjalani prosedur yang berisiko meninggalkan luka baru, seperti tindik atau operasi.
Kesimpulan
Keloid memang lebih mudah dicegah daripada diobati. Menjaga kebersihan luka, menutupnya dengan plester yang tepat, serta tidak sembarangan membuat luka baru pada bekas luka lama adalah langkah sederhana yang bisa mengurangi risiko keloid muncul. Jika keloid sudah terlanjur terbentuk, tetap konsultasikan penanganannya ke dokter kulit agar hasilnya optimal dan aman untuk jangka panjang.
